Rabu, 16 Februari 2011

Tinjauan Mengenai Perceraian

Pendahuluan
Perceraian bukanlah hal yang baru bagi kita. Sudah sejak zaman Yunani Kuno perceraian adalah sebuah trend bagi para kaum bangsawan. Kehidupan yang setia semakin sulit dirasakan sekarang karena berubahnya paham perkawinan sebagai sebuah lembaga yang suci menjadi hanya sebuah kontrak saja. Bagaimana kita seharusnya menyikapi hal ini? Bagaimana kita bisa memahami perceraian dari perspektif Kristen? Kita akan lihat bagaimana kekristenan memandang perceraian dengan melihat data statistik dan juga apa kata teks Alkitab mengenai hal ini.
Fakta Perceraian
Sebelum kita melangkah lebih jauh, ada baiknya kita melihat data perceraian yang bisa diperoleh baik dari dalam maupun luar negeri. Di Amerika Serikat pada tahun 1970an, angka perceraian meningkat dua kali lipat dari sebelumnya, dan meningkat menjadi tiga kali lipat pada tahun 1981 (apabila dihitung dari tahun 1962 yaitu sebanyak 400,000 kasus menjadi 1,2 juta kasus). Sebuah sumber menyebutkan kalau angka perceraian di Amerika Serikat adalah 66,6% dari jumlah perkawinan, dan Inggris berada di tempat kedua dengan angka 50%. John Stott mencatat fakta ini dalam bukunya bahwa, “Pada tahun 1980 terdapat di Inggris 409,000 perkawinan (35% dari angka itu adalah perkawinan kedua). Pada 2006 yang lalu Indonesia 159.000 angka perceraian  , pendaftar perceraian mengalami kenaikan tajam. Selain data-data tersebut, kita juga dapat menyaksikan trend kasus perceraian yang terjadi bagi kaum golongan menengah ke atas, khususnya kaum selebritis. Namun bolehlah itu untuk menjadi acuan kita bahwa kasus perceraian memang sedang hangat dibebe rapa tempat di Indonesia dan menjadi peringkat ketujuh didunia.. Pertanyaan selanjutnya adalah, kenapa orang bercerai?
 Penyebab Orang Bercerai
Ada beberapa hal yeng menjadi pendorong orang untuk bercerai dari pasangannya. Robert Borrong menyatakan ada tiga hal utama yang mendorong perceraian; yaitu Pernikahan tanpa cinta, Pernikahan Dini (Belum siap secara mental, emosi, dan materi), dan pernikahan campuran (pernikahan karena beda agama). Ketiga hal ini dapat saling terikat dan menguatkan alasan-alasan untuk bercerai.
Akibat Perceraian
Pada dasarnya perceraian akan merugikan semua pihak, bahkan anak yang dibesarkan oleh orangtua yang bercerai kemungkinan besar akan melakukannya juga di kemudian hari. Perceraian juga tidak bisa semata-mata dilarang karena akibatnya tersebut. Banyak juga yang bercerai karena memang mengalami trauma dan kehidupan yang kacau dan menjadi lebih tersiksa dalam proses perceraian dan masa sesudahnya. Anak-anak yang orangtuanya bercerai memiliki prestasi yang lebih rendah di sekolah, memiliki masalah dengan tingkah lakunya di rumah dan sekolah, dan terlibat dalam tindak kejahatan maupun seksual lebih cepat dari mereka yang orangtuanya tetap bersama. anak-anak adalah korban yang mengalami efek paling besar dari perceraian .Karena perceraian, anak-anak akan menjadi bingung, tersiksa, dikejar trauma, rawan depresi, dan banyak lagi. Mereka bisa menjadi bengal karena dampak negatif perceraian tersebut, dan juga memiliki kesulitan mencari contoh ayah atau ibu yang sempurna dalam keluarga. Penelitian jangka panjang terhadap anak-anak korban perceraian di AS menunjukkan, 25% di antara mereka sangat bermasalah, 25% tidak bermasalah, serta 50% bermasalah seperti lazimnya anak-anak normal.
Pandangan Alkitab Mengenai Perceraian
Sebelum kita melihat apa yang Alkitab katakan mengenai perceraian, baiklah kita melihat dulu apa arti perkawinan dalam kehidupan Kristen. Hal penting untuk dilakukan agar kita mengetahui apa tujuan sebenarnya dari perkawinan dan dalam bidang apa perceraian merusak tujuan perkawinan tersebut. Ada beberapa pandangan mengenai tujuan dari perkawinan. Verkuyl memandang perkawinan itu sebagai persekutuan hidup yang ditetapkan oleh Tuhan. Sedangkan Purwa Hadiwardoyo menyebutkan beberapa sifat pokok perkawinan, yaitu monogam, tak terceraikan, heteroseksual, dan terbuka akan adanya anak. Sementara itu, berdasarkan Kejadian 1 dan 2, John Stott melihat ada tiga tujuan pernikahan: ‘beranak cuculah dan bertambah banyak’ (Kej. 1:28); ‘Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.’ (Kej. 2:18); dan ‘menjadi satu daging’ (Kej. 2:24). Ketiga tujuan dan kebutuhan perkawinan ini bisa disingkat sebagai kebutuhan prokreasi, dukungan, dan rekreasi. Singkatnya, perkawinan diadakan untuk sebuah tujuan mulia yang telah ditetapkan oleh Allah. Tujuan ini seharusnya menjadi pegangan manusia untuk melanjutkan kehidupannya melalui perkawinan. Namun, perceraian semakin membayang dalam kehidupan nyata. Apa kata Alkitab mengenai perceraian?

Perceraian dalam Alkitab
Ada beberapa pandangan orang Kristen tentang perceraian, yaitu: Perceraian bukanlah ideal Allah, Perceraian tidak diperbolehkan karena alasan apapun, Perceraian menciptakan masalah-masalah. Kita akan melihat sebuah teks dari Perjanjian Lama mengenai perceraian yang diatur dalam Taurat, dan ucapan Yesus sendiri dalam Matius 19.  Dalam Perjanjian Lama, Ulangan 24:1-4, Satu hal yang jelas dari ayat ini bahwa dia bukan untuk mengatur perceraian melainkan untuk melarang laki-laki untuk mengawini ulang mantan isterinya. Kita bisa lihat bersama bahwa tidak ada aturan mengenai perceraian dalam bagian ini, yang diatur adalah bagaimana seharusnya suami bertindak kepada mantan isterinya. Kata ‘tidak senonoh’ pada bagian di atas menimbulkan perdebatan antara Rabi Hillel dan Rabi Shammai. Kenapa menjadi perdebatan karena mereka merasa bahwa kata tidak senonoh tidak mungkin merujuk kepada perzinahan, karena yang melakukannya pasti dirajam mati. Rabi Shammai condong mengartikannya sebagai pelanggaran seksual, sementara Rabi Hillel mengartikannya bahwa suami tidak lagi menyukai isterinya, bahkan dengan alasan yang sepele sekalipun. Karena itu sekali lagi kita harus lihat bahwa ayat di atas sebenarnya bukan berbicara mengenai syarat perceraian melainkan bagaimana suami harus bertindak kepada mantan isterinya.
Dalam Perjanjian Baru, Pandangan Yesus ialah dalam Matius 5:31-32, dan Dalam Matius 19:9. Dalam ayat ini Tuhan Yesus melarang perceraian tetapi ada pengecualian yaitu karena zinah. Pengecualian ini hanya terdapat dalam Matius 5:32 dan Matius 19:9, Kata zinah dalam bahasa Yunani ialah Porneia. Porneia artinya barang najis. Sebenarnya Yesus tidak membatasi pengertian ini dalam arti yang sempit tetapi dalam arti yang luas. Penulis berpendapat bahwa perzinahan yang dimaksud oleh Yesus bukan dibatasi dalam arti percabulan, keinginan daging tetapi perzinahan rohani. artinya hal-hal yang dalam perzinahan rohani yang harus dipisahkan ditengah umat Allah. Menurut Penulis jika nats ini disalah artikan akan sangat banyak orang yang akan bercerai karena hawa nafsu. Jadi Jelas Yesus sendiri menyatakan bahwa Perceraian tidak diperbolehkan. Sangat Jelas sekali bahwa Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru pun tidak mengizinkan perceraian (Maleakhi 2:16, Matius 19:4-6).  Paulus menyatakan sendiri setuju dengan tidak boleh bercerai. Dalam 1 Korintus 7:1-15, merupakan  persfektif Paulus untuk tidak setuju jika orang percaya melakukan tindakan perceraian. Dalam situasi apapun keputusan etis Paulus tidak setuju dalam perceraian. Pernikahan adalah kudus dan sacral.
Kesimpulan
Perkawinan adalah suatu hal yang suci yang diberikan Allah kepada manusia sejak awalnya. Perkawinan juga diberikan dengan sebuah tujuan. Namun ketika tujuan itu dilanggar maka banyak hal yang harus dipertimbangkan. Perceraian tetaplah merupakan sesuatu yang jahat dan juga dosa. Perceraian juga membawa kerugian secara mendalam bagi mereka yang berpisah, anak-anak mereka, bahkan keluarga besar mereka. Penulis sekali lagi menegaskan bahwa Perceraian TIDAK BOLEH DILAKUKAN. Karena:
1.      Perceraian merupakan larangan Tuhan. Allah tidak pernah merencanakan dan mengijinkan perceraian diantara umat-Nya (Matius 19:6, Roma 7:2)
2.      Perceraian merusak sumpah sakral dalam pernikahan yang dibuat Allah (Amsal 2:17).
3.      Perceraian membatalkan seorang penilik jemaat. Salah satu kualifikasi bagi seorang penilik jemaat adalah bahwa dia haruslah suami dari satu istri.
Jadi pada intinya TIDAK BOLEH BERCERAI, karena Alkitab sangat jelas menjelaskannya dan Perkataan Tuhan Yesus sendiri yang melarang perceraian. Kalau Tuhan Yesus sendiri mengatakan jangan, kita harus taat juga dengan mengatakan jangan. 
Daftar Pustaka:
John Stott, Isu-Isu Global, Jakarta: Yayasan OMF, 1996, 370.
Robert P. Borrong, Etika Sosial Kontemporer, Bandung: Ink Media, 2006, 66.
J. Verkuijl, Etika Kristen Seksuil, Jakarta: BPK-GM, 1984, 54-55
Purwa Hadiwardoyo, Moral dan Masalahnya, Yogyakarta: Kanisius, 1990, 64-65.
Theo Cristi, Perceraian Dan Pernikahan Ulang. Jakarta: YWAM Publishing Indonesia, 2006, 89-90

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar