Rabu, 16 Februari 2011

Pengaruh Filsafat dalam Perkembangan Teologi

DAFTAR ISI


BAB I     PENDAHULUAN

Pengertian Filsafat …………………………………………………………………………………1

                                Pengertian Teologi ……………………………………………………………………………………2


BAB II    Pengaruh Filsafat dalam Perkembangan Teologi…………………3

Dampak Positif Pengaruh Filsafat Terhadap Teologi……5

Dampak Negatif Pengaruh Filsafat Terhadap Teologi……7


BAB III   Kesimpulan……………………………………………………………………………………………………………9


Daftar Pustaka ………………………………………………………………………………………………………………………11






BAB I
PENDAHULUAN

     Sistem filsafat telah memberikan sumbangsih dalam mendorong pikiran manusia yang menghasilkan penemuan dan pengertian rahasia alam. Dalam hal inilah manusia mulai memakai rasio mereka untuk mengungkapkan suatu kebenaran yang ingin dicapai tersebut, termasuk dalam kemajuan perkembangan dalam ilmu teologia. Pada waktu filsafat menjadi senjata menyerang iman kepercayaan, Penulis memberikan suatu pertanyaan, yaitu: bagaimanakah orang Kristen boleh mempertahankan diri serta memberi jawaban yang cukup kuat? Dan Apakah dampak postif dan negatif dari sumbangsih ilmu filsafat dalam perkembangan ilmu teologi?


Pengertian Filsafat

Secara etismologis, istilah “filsafat”, yang merupakan padanan kata falsafah (bahasa Arab)dan Philosophy (bahasa Inggris), yang berarti philos (kekasih atau sahabat) dan sophia (kebijaksanaan atau kearifan). Jadi, filsafat dapat didefinisikan sebagai yang mencintai kebijaksanaan atau sahabat pengetahuan.[1] Menurut Rene Descartes, filsuf Prancis yang termasyur dengan argument Je pense, donc je suis, atau dalam bahasa latin “cogito ergo sum”, mengatakan bahwa filsafat adalah himpunan dari segala pengetahuan yang paling pangkal penyelidikannya adalah mengenai Tuhan, alam, dan manusia.[2] Dari pernyataan tersebut, bisa dikatakan bahwa filsafat adalah suatu ilmu yang terus mencari sesuatu kebenaran atau ilmu disiplin intelektual tentang natur realita dan penyelidikan terhadap prinsip-prinsip umum mengenai pengetahuan dan keberadaanya. Penulis tertarik dengan pernyataan Dene Descartes mengenai pengertian filsafat yang berunjuk pada segala pengetahuan yang pangkal penyelidikannya adalah Tuhan, alam dan manusia. Dari penyataan tersebut, penulis berpendapat bahwa manusia mulai mencari suatu kebenaran menurut cara pandang seseorang tersebut memandang untuk membuktikan suatu kebenaran tersebut. Filsafat ini melahirkan beberapa ilmu pengetahuan yang dipakai manusia untuk mencari suatu kebenaran.


Pengertian Teologi

     Teologi dalam bahasa Yunani disebut θεος, theos, "Allah, Tuhan", dan λογια, logia, "kata-kata," artinya  "ucapan," atau "wacana" adalah wacana yang berdasarkan nalar mengenai agama, spiritualitas dan Tuhan.[3] Dengan demikian, teologi adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan keyakinan beragama. Teologi meliputi segala sesuatu yang berhubungan dengan Tuhan. Substansi teologi adalah “saya percaya bahwa Tuhan ada sesuai dengan pernyataan Alkitab. Dan saya percaya seluruh keterangan tentang penjelasan yang ada pada Alkitab”[4].  


BAB II
Pengaruh Filsafat dalam Perkembangan Teologi

Setelah mengetahui secara singkat pengertian mengenai filsafat dan teologia. Penulis mencoba mencari akar masalah yang akan dibahas di bab II ini mengenai Apakah ada pengaruh filsafat dalam perkembangan teologi? Dan apa dampak positif maupun negative perkembangan filsafat tersebut dalam perkembangan teologi hingga saat ini?
Teologi adalah suatu sistem kepercayaan tentang Allah,sifat manusia,dunia,gereja,dan topik-topik lainnya yang berhubungan dan dirumuskan untuk memampukan orang-orang Kristen memahami dan menerima iman mereka.Secara klasik,filsafat senantiasa terlibat dalam perkembangan sistem-sistem dalam menafsirkan realitas. Jika kita mengetahui secara ringkas tentang awal mula terjadinya filsafat karena adanya beberapa faktor yang mempengaruhi manusia mulai berikir rasional, bahkan dalam ilmu teologi, menurut Jan Hendrik,[5] yaitu:
1. Ketakjuban, artinya manusia mulai kagum dengan terjadinya suatu proses alam, yang memiliki subjek dan objek dalam penelitian kekaguman tersebut.
2. Ketidakpuasan, artinya manusia ingin keluar dari setiap mitos-mitos dan mite-mite yang terus menjadi penghalang untuk berkembang. Sehingga ketidak puasan itu membuat manusia terus menerus mencari penjelasan dan keterangan yang lebih pasti dan menyakinkan.
3. Hasrat bertanya, artinya manusia ketika mengalami ketakjuban dan ketidak puasan, maka manusia mulai memiliki pertanyaan yang radikal untuk mencari suatu kebenaran. Pertanyaan tidak boleh dianggap sepele karena pertanyaanlah membuat kehidupan serta pengetahuan manusia berkembang dan maju.
4. Keraguan, artinya manusia sebagai penanya mempertanyakan sesuatu kebenaran dengan maksud untuk memperjelas dan membuktikan suatu kebenaran tersebut, sehingga muncul keraguan tentang sesuatu kebenaran yang ada, dan terus mencari.
Dari pernyataan tersebut jelaslah bahwa ada pengaruh yang diberikan filsafat bagi ilmu pengetahuan manusia yang dipakai hingga sampai hari ini. Setelah beberapa hal dibahas diatas, maka dari keempat hal tersebut, muncullah teologi yang sama dengan pandangan Dene Descartes, yang membahas tentang Tuhan, dunia, dan manusia. Pandangan ini muncul akibat manusia mulai bertanya-tanya dan mulai mencari suatu kebenaran.
     Dalam hubungan filsafat dan teologi, Millard J. Erickson, menyatakan bahwa:[6]
1. Teologia dan filsafat tidak ada hubungan sama sekali. Pendapat ini dicetuskan oleh Tertulianus (160-230)
2. Teologi dapat diuraikan dengan jelas oleh filsafat (Augustinus).
3. Teologi kadang-kadang diteguhkan oleh filsafat (Thomas Aquinas).
4. Teologi juga dapat dinilai oleh filsafat (Aliran Deisme).
5. Dalam beberapa kasus tertentu filsafat bahkan member isi kepada teologi (Georg Hegel).
Dari kelima hal ini dapat dikatakan bahwa filsafat memiliki hubungan yang sangat penting. Namun apakah semua pengaruh filsafat terhadap teologi tersebut membawa dampak positif atau malah sebaliknya membawa dampak yang negatif?

Dampak Positif Pengaruh Filsafat Terhadap Teologi

     Banyak orang Kristen yang menganggap bahwa minat terhadap filsafat sebagai satu hal yang membuat kita menjadi ragu-ragu dan permainan api yang membahayakan. Dimasa gereja yang mula-mula terdapat orang-orang seperti Yustinus Martir (100- 165) dan Clement dari Alexandria (150-215)[7] yang berusaha menyakinkan para pembacanya bahwa banyak orang kafir yang telah dipimpin kepada agama yang benar melalui filsafat, dan mereka mengatakan bahwa filsafat bagi orang-orang Yunani kuno merupakan semacam Perjanjian Lama bagi orang-orang Yahudi. Namun pandangan-pandangan seperti itu berhasil disingkirkan oleh penulis-penulis seperti Tertulianus (160-220) yang menentang semua Argumentasi mereka. Dia memaparkan bahwa hikmat dunia tanpa iman tidak akan pernah dapat membawa manusia kepada suatu pengenalan akan Kristus.
Filsafat tidak dimulai pada Abad Pertengahan, tetapi Abad Pertengahan merupakan titik tolak yang baik untuk memulai suatu catatan mengenai filsafat dan iman Kristen. Secara klasik,filsafat senantiasa terlibat dalam perkembangan sistem-sistem dalam menafsirkan realitas. Kita bersyukur untuk kemajuan dalam filsafat karena ilmu itu lebih dipandang sebagai sumber yang menjelaskan makna dan hubungan. Charles Greshman menegaskan "ilmu filsafat sebagai suatu metode menaruh perhatian pada pikiran yang cermat.[8] Ini merupakan suatu upaya untuk melihat segala hal seutuhnya dan menafsirkan data yang disajikan oleh seliruh aspek realitas. Sebagai isi ,filsafat berupaya menyuguhkan jawaban yang komphrehensif terhadap pertanyaan-pertanyaan mendasar. Teologi menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti : apakah sifat manusia ? apakah tujuan kita hidup? Walaupun Kitab Suci berbicara dan menjelaskan pertanyaan-pertanyaan berikut,justru ilmu filsafatlah yang berinteraksi secara langsung dengan pertanyaan-pertanyaan ini : Apakah hakekat realitas (metafisika)? Apakah yang menjadi asal mula dari alam dan manusia? Apakah hakikat pengetahuan? dan bagaimana seseorang dapat mengetahui sesuatu (epistimologi)? Apakah tujuan akhir dari manusia dan dunia? Dalam hal ini Allah dimengerti sebagai Realitas yang paling mengagumkan dan mendebarkan. Tentulah dalam arti terakhir itu berteologi adalah berfilsafat juga. Dengan pernyataan diatas, Penulis melihat bahwa filsafat sebagai ilmu pengetahuan, dapat memberikan dampak postif juga dalam perkembangan ilmu teologi.


Dampak Negatif Pengaruh Filsafat Terhadap Teologi

     Selain kegunaan filsafat berdampak postif dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan juga teologi, ternyata filsafat pun dapat membawa dampak negatif juga bagi perkembangan teologi. Memang harus diakui betapa pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan sehingga manusia mulai percaya bahwa ilmu pengetahuan benar-benar mahakuasa. Oleh sebab itu manusia mulai memandang bahwa ilmu pengetahuan adalah segala-galanya. Sehingga manusia lebih cenderung memfokuskan diri terhadap ilmu pengetahuan dan mulai meninggalkan iman mereka. Disamping itu, ilmu pengetahuan tidak mempersoalkan asas dan hakikat realitas. Filsafat menggiring manusia untuk berpikir lebih realitas, sehingga dari hasil tersebut membawa manusia mulai berpikiran liberal. Menurut Sunoto[9] filsafat adalah usaha manusia dengan akalnya untuk memperoleh suatu pandangan dunia dan hidup yang memuaskan hati. Jika teologi dimulai dari “saya percaya adanya Tuhan”. Sedangkan filsafat mampu bertanya, “Ada apa dibelakang Tuhan? Siapa yang ada sebelum Allah? Bila Tuhan belum ada, siapa yang memerintah? Bagaimana rupa dan wujud Allah? Apa yang ada dalam pikiran Allah?[10] Oleh sebab itu filsafat pun dapat memberikan dampak yang negatif dalam teologi yaitu manusia menjadi berpikir liberal dan pada akhirnya menajadikan suatu bidat atau aliran-aliran yang menentang adanya Tuhan. Semakin manusia tersebut berpikir radikal tanpa memegang iman percayanya, secara otomatis manusia tersebut akan terbawa arus filsafat yang berpikir liberal dan akhirnya iman percayanya kepada Tuhan pun mulai “mati” secara rohani. Salah satu contoh ialah pengaruh dari teori Darwin yang mengakar dalam ilmu pengetahuan dan munculnya paham-paham komunis yang menyatakan bahwa tidak ada Allah atau  paham Atheis. Dan ini pun terjadi pada abad-abad pertengahan yang memiliki cara pandang tersendiri terhadap perkembangan ilmu teologi. Dan akhirnya muncul Teologi Liberal yang tahun-tahun akhir abad 18 dan seluruh abad 19 yang cenderung menggunakan rasio pikiran mereka daripada iman percaya mereka terhadap Tuhan. sehingga muncul banyak aliran-aliran dari cara pandang teologi tersebut, hingga saat ini pun berdampak besar bagi perkembangan teologi yang kita rasakan sampai hari ini.

Kesimpulan

Penulis mengambil suatu kesimpulan tentang pengaruh perkembangan filsafat terhadap ilmu teologi. Jika kita perhatikan dari pengertian filsafat hingga kepada teologi tersebut, maka akan terbentuk adanya kesatuan yang bermakna positif maupun negatif dalam perkembangan teologi tersebut. Dengan pemaparan diatas penulis mengambil kesimpulan bahwa seharusnya teologi adalah sentral yeng member nilai. Walaupun filsafat bertugas member nilai terhadap disiplin ilmu yang ada, nilai kebenaran yang hakiki terletak pada teologi yaitu Teologi Alkitabah. Penulis setuju dengan gambar yang dibuat oleh Sutono, yaitu:[11]
FILSAFAT
 
Ilmu Pengetauan
 
Teologi
 
 












Sunoto melihat bahwa Teologi adalah central yang seharusnya mempengaruhi semua aspek dari ilmu pengetahuan dan filsafat. Misalnya ia melihat manusia, kemudian mengatakan itu adalah manusia. Ini berarti ia telah mempunyai pengetahuan tentang manusia. Dan jika seandainya ia terus melanjutkan pertanyaan kembali, misalmnya, dari mana manusia itu berasal, bagaimana susunannya, kemana tujuannya dan sebagainya, akan diperoleh jawabanya berupa ilmu antrophologi. Seterusnya jika seseorang masih bertanya mengenai apa manusia itu atau apa hakikat manusia itu maka jawabannya akan berupa suatu filsafat. Sehingga terus membuat pertanyaan sehingga muncul dari manakah manusia itu berada, dan muncul ilmu teologi sebagai central menjawab semuanya itu yaitu kembali kepada manusia ada pasti ada yang menciptakan, yaitu Tuhan Allah. Banyak para ahli yang terjebak dengan filsafat yang membuat berpikir radikal dan mulai meninggalkan iman percaya kepada Tuhan, sehingga muncul Teologi Liberal dan paham-paham yang lain yang berlandaskan pada alam pikiran manusia saja. Dari semuanya itu lebih baik ketika kita mulai berfilsafat maka patokan yang menjadi dasar ialah firman Tuhan yaitu teologi Alkitabiah.







DAFTAR PUSTAKA


Rapar, Jan Hendrik. Pengantar Filsafat. 1996. Yogyakarta: Kanisius


Dister, Niko. Pengantar Teologi. 1991. Yogyakarta: Kanisius.


Situmorang, Jonar. Filsafat Dalam Terang Iman Kristen. 2004. Yogyakarta: Andi.


Millard J. Erickson. Teologi Kristen. 1999. Malang: Gandum Mas.


Sunoto. Mengenal Filsafat Pancasila, Pendekatan Melalui metafisika, logika, dan etika.  1987 Yogyakarta: Hanindita.


Agus Miradi. Siapakah Manusia Pertama Itu?, 2000. Jakarta: Yayasan Tunas daud.


Brown, Colin. Filsafat dan Iman Kristen. 2008. Surabaya: Momentum


[1] Rapar, Jan Hendrik. Pengantar Filsafat. 1996. Yogyakarta: Kanisius. Hal. 14
[2] Ibid, hal. 15
[3] Dister, Niko. Pengantar Teologi. 1991. Yogyakarta: Kanisius. Hal. 33
[4] Situmorang, Jonar. Filsafat Dalam Terang Iman Kristen. 2004. Yogyakarta: Andi . hal. 123
[5]Rapar, Jan Hendrik. Pengantar Filsafat. 1996. Yogyakarta: Kanisius. Hal. 16 - 18
[6] Millard J. Erickson. Teologi Kristen. 1999. Malang: Gandum Mas. Hal. 46-48
[7] Brown, Colin. Filsafat dan Iman Kristen. 2008. Surabaya: Momentum. Hal. 2
[8] Dister, Niko. Pengantar Teologi. 1991. Yogyakarta: Kanisius. Hal. 34
[9] Sunoto. Mengenal Filsafat Pancasila, Pendekatan Melalui metafisika, logika, dan etika.  1987 Yogyakarta: Hanindita. Hal. 10
[10] Agus Miradi. Siapakah Manusia Pertama Itu?, 2000. Jakarta: Yayasan Tunas daud. Hal. 2
[11]  Ibid. hal. 9





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar