Rabu, 16 Februari 2011

Kepemimpinan Kristen

BAB I
PENDAHULUAN

            Dalam hal bagian pendahulan ini penulis akan menguraikan beberapa hal tentang latar belakang kepemimpinan. Dalam Amsal 11: 24 (BIS), “Bangsa akan hancur jika tidak ada pimpinan, semakin banyak penasihat, semakin terjamin keselamatan.” Oleh sebab itu sangat penting untuk mengetahui latar belakang kepemimpinan teresebut.

LATAR BELAKANG MASALAH

            Kepemimpinan memiliki peran penting dalam suatu organisasi. Pokok kepemimpinan terasa sangat penting, secara khusus tatkala orang semakin gencar membicarakan pokok seputar “pentingnya kepemimpinan” sebagai penentu kesuksesan kerja. Oleh sebab itu, kepemimpinan memegang peranan penting yang dapat menentukan maju mundurnya suatu organisasi. Diakui atau tidak, telah terbukti bahwa kepemimpinan mempengaruhi kehidupan organisasi manapun di dunia. Namun, bukan hanya secara umum, digereja pun sangat penting. Banyak gereja-gereja yang hancur dan tidak berkembang dalam kemajuan jemaat akibat kurangnya kepemimpinan dalam gereja tersebut dan tidak heran banyak gereja-gereja yang mundur, yang terpecah-pecah dan hancur akibat kurangnya para pemimpin untuk bisa mengembangkan sikap kepemimpinannya. Oleh sebab itu penulis akan menganalisa bagaimana seorang pemimpin untuk dapat meningkatkan kepemimpinannya yang dinamis, sebab keberhasilan atau  kegagalan suatu organisasi tersebut ditentukan oleh pemimpin. Karena itu, sangat penting untuk kita mengetahui bagaimana caranya kita untuk meningkatkan kepemimpinan yang dinamis tersebut.

BAB II
DESKRIPSI KEPEMIMPINAN YANG DINAMIS

            Penulis melihat betapa pentingnya seseorang untuk memiliki jiwa kepemimpinan yang terus berkembang dan tidak berhenti saja untuk menjadi pemimpin, seseorang harus memiliki “kuasa kepemimpinan” (Leadership Power) yang utuh menempatkan dan menunjang dirinya serta fungsinya sebagai pemimpin[1]. Penulis sangat setuju dengan pernyataan tersebut sebab dalam kepemimpinan tersebut, kita harus memiliki otoritas atau kuasa kepemimpinan itu agar apa yang kita sedang pimpin dapat melihat jiwa kepemimpinan kita yaitu pemimpin yang mempunyai kuasa dan otoritas. Sebab seorang pemimpin harus memiliki citra tersebut, jika tidak pemimpin tersebut akan mengalami kesulitan, sebab orang yang kita akan pimpin akan memberontak dan tidak akan menganggap kita sebagai pemimpin yang mempunyai otoritas atau kuasa. Kuasa kepemimpinan yang dimaksudkan disini ialah kapasitas dan kompetisi penuh yang harus dimiliki serta diberikan kepada seseorang yang memungkinkan dia untuk menjadi seorang pemimpin yang dilengkapi dan yang dapat mengerti para anggotanya serta akan diakui juga oleh para anggotanya. Selain itu juga, kuasa kepemimpinan akan memberi kepada seseorang yang memungkinkan dia menjadi seseorang yang mantap untuk melakukan tugas kepemimpinannya. Pemimpin tersebut harus bisa meningkatkan kapasitas sehingga akan terus bertambah dan akan menghasilkan para pemimpin baru. Dalam bukunya John Maxwell mengatakan bahwa dalam kepemimpinan akan terdapat hukum katup yang akan menambahkan tingkat kepemimpinan tersebut dalam diri seorang pemimpin, jika seorang pemimpin tidak meningkatkan tingkat kepemimpinannya maka katup yang dimilikinya pun hanya tertupu terus sehingga kepemimpinannya tidak dapat berkebang yang dapat merusak suatu organisasi yang ia kelola.[2] Penulis setuju sebab jika kita hanya memfokuskan dengan kepemimpinan yang hanya cukup saja, maka pemimpin tersebut pun akan mengalami kegagalan dalam memimpin. Namun jika pemimpin tersebut membuka katup yang tertutup itu dan mengembangkan kepemimpinan tersebut, maka ia akan berhasil untuk menjadi pemimpin yang berhasil dan akan maju dan akan melahirkan para pemimpin yang baru dan juga akan disegani oleh banyak orang.

DEFENISI KEPEMIMPINAN

            Berbicara tentang kepemimpinan, menurut Thomas Gordon definisi paling sederhana mengenai pemimpin adalah seseorang yang memiliki para pengikut.[3]  Peran pemimpin juga adalah menciptakan para pengikut. Dengan memahami hal ini, para calon pemimpin akan dapat memfokuskan berbagai usaha mereka untuk mempelajari apa yang harus mereka lakukan untuk menarik para pengikutnya sehingga seorang pemimpin harus mempunyai pengaruh yang sangat baik untuk dapat memimpin. Menurut Sondang siagian, kepemimpinan adalah seseorang yang memiliki kemampuan memimpin, artinya memiliki kemampuan untuk mempengaruhi perilaku orang lain atau kelompok. Sedangkan kepemimpinan adalah keseluruhan aktivitas dalam rangka mempenagruhi orang-orang agar mau bekerja sama untuk mencapai tujuan yang akan dicapai bersama.[4]
            Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kepemimpina ialah seseorang yang dapat mempengaruhi dan melakukan perintah.[5] Jadi sebagai orang yang memiliki citra dala kepemimpinan haruslah orang yang memiliki daya tari baik lewat penagaruh serta daya pengefektifan dalam pengambil keputusan yang dapat memberikan jalan kelaur baik bagi anggota-anggotanya.
Dinamis dalam kamus bahasa Indonesia ialah bergerak, maju, serta penggerak sesuatu. Jadi Kepemimpinan yang dinamis dapat disimpulkan ialah seseorang yang memiliki daya penggerak, pengaruh serta daya pendobrak yang efektif dan dapat melakukan hal yang terbaik yang dapat menerobos dan memiliki kecermatan yang dapat memberikan inspirasi yang baru serta dampak yang luar biasa. Dari kesimpulan diatas berarti kita dapat mengambil suatu intisari dari kepemimpian yang dinamis.


BAB III
KEPEMIMPINAN MENURUT ALKITAB


KEPEMIMPINAN DALAM PERJANJIAN LAMA

 BELAJAR DARI KEPEMIMPINAN MUSA.
Bangsa Israel, yang asal mulanya terdiri dari 12 anak Israel (Yakub), dizaman sebelum tampilnya Musa dan Yoshua, tidaklah mempunyai negeri atau pemerintahan sendiri. Mereka hidup dinegara Mesir. Mereka datang ke Mesir, karena Yusuf, anak kesayangan Yakub/Israel, telah dijual oleh sdr sdrnya karena iri hati, dan telah dibawa orang ke Mesir. Menjelang beberapa waktu, atas penentuan ALLAH, Yusuf telah diangkat menjadi orang besar disana, seorang raja muda, dan dia memanggil Israel/Yakub, bapanya, dan kesebelas sdr sdrnya, serta keluarga mereka, untuk tinggal di negara Mesir tersebut.  Mesir pada waktu itu adalah negara penyembah berhala (bahkan sampai sekarangpun masih sama saja).  Setelah lewat tenggang waktu yang cukup lama, setelah Yusuf dan generasinya telah meninggal, dan beberapa generasi telah datang dan pergi, dan bangsa Israel diberkati ALLAH dengan keturunan yang banyak, sesuai dengan janji ALLAH kepada Abraham; bangkitlah seorang Firaun baru yang tidak tahu sejarah Mesir dan tidak tahu akan jasa Yusuf di Mesir. Firaun dan rakyat Mesir, menjadi takut akan pesatnya pertumbuhan jumlah penduduk dari bangsa Israel, orang orang pendatang yang cara hidup dan kepercayaan mereka lain dari agama Mesir. Orang orang pendatang ini mereka jadikan budak budak (slaves) dan Firaun ini menghimpit kehidupan mereka dengan kerja paksa dan dibawah siksaan, dan penindasan yang kejam! bangsa Mesir-pun ingin membasmi bangsa Israel tersebut. Rencana mereka ialah untuk membunuh bayi-bayi laki-laki Israel yang baru lahir (dapat kita baca diKeluaran 1 mulai ayat 15). Yang perempuan boleh dibiarkan untuk hidup. Yang telah menjadi korban cukup banyak, tetapi pada hakekatnya, yang luput dari pembasmian tersebut, juga cukup banyak. Buktinya Musa dan Yoshua (yang akan kita suluhi sebagai kelanjutan dari ulasan ini) telah keluar dari Mesir dengan rombongan besar, yaitu kira kira 600,000 kaum laki laki dari bangsa Israel, belum termasuk para isteri dan anak anak mereka. Dalam jumlah keseluruhan, tidak kurang dari 2,000,000 jiwa telah dipimpin oleh Musa, waktu mereka keluar dari Mesir.  Musa sendiri, atas rencana ALLAH, telah dilahirkan, dan dipungut oleh putri raja Mesir, dan telah dididik dalam segala ilmu pengetahuan dan ilmu kepemerintahan, sehingga dia dibesarkan sebagai Pengeran Mesir, dan telah dipersiapkan untuk duduk dalam pucuk pimpinan Mesir.  Apa yang para pemuka Mesir tidak mengetahui, ialah Musa ini berada di istana atas penentuan ALLAH. Dia telah dilahirkan untuk menjalankan rencana ALLAH bagi bangsa Israel. Tetapi Musa hanya sempat menjalankan rencana ALLAH sampai kepada taraf tertentu. Dia berhasil membawa keluar seluruh bangsa Israel, dari perbudakan dan penindasan bangsa Mesir.  Sayangnya, dalam satu peristiwa dimana umat kehabisan air minum didekat mata air Meriba di Kadesh, umat telah sangat menjengkelkan Musa sehingga ditelah hilang kesabaran., dan dengan tidak sengaja telah melanggar perintah dan kekudusan ALLAH. Oleh karena itu dia telah gagal untuk merampungkan seluruh rencana ALLAH, yaitu bagian terakhir; bagian membawa bangsa tersebut masuk ke Tanah Perjanjian. Kalau kita telah membaca adegan terakhir dari kehidupan Yoshua yang telah menunjukan keberhasilannya dalam menjalankan tugasnya karena “semua janji dan berkat ALLAH telah digenapi…”, mari kita membaca adegan terakhir dari Musa, pemimpin besar yang pertama, yang  dari beliaulah, Yoshua telah belajar banyak, dan berhasil. Dalam kitab Ulangan 32 ayat 48 menceritakan kepemimpian musa. ALLAH telah berkata, Musa, engkau akan mati sebentar lagi! Engkau telah bersalah dalam dua hal.vMusa adalah orang yang sangat istimewa yang pernah lahir didunia ini.  Kitab Keluaran 33 ayat 11 ada keakraban yang luar biasa diantara ALLAH dengan Musa. Dia adalah satu satunya manusia yang dapat bertemu muka dengan muka dengan ALLAH Tuhan. Musa telah dipersiapkan untuk menjadi pemimpin yang pintar dan mahir dalam protocol istana untuk dapat menghadap Firaun. Dia juga harus disegani oleh kelompok Israel. Makanya Musa harus lahir dan  harus dibuangkan ke sungei Nil, supaya dia dibawa ke istana. Dan atas penentuan ALLAH, itupun harus terjadi bertepatan waktu dimana putri raja akan turun mandi. Tidaklah kita ketahui, jadwal tetap  dari sang putri ini untuk turun mandi. Apakah sekali sehari atau sekian kali seminggu atau sebulannya. Pokoknya, diwaktu dia turun mandi! Begitu sang putri melihat Musa, dia langsung tertarik kepada bayi yang cantik tersebut dan memutuskan untuk mengangkatnya menjadi anak, membesarkan dan mendidik Musa untuk menjadi seorang pembesar Mesir. Jadi seorang pemimpin yang dinamis harus memiliki kedekatan yang baik dengan Allah.
KEPEMIMPINAN DALAM PERJANJIAN BARU

Markus 10: 35-45. Pola kepemimpinan Tuhan Yesus adalah kepemimpinan yang menghamba. Pemimpin yang melayani, pemimpin yang menjadi hamba bagi orang yang di pimpin-Nya. Sebaliknya yang diutarakan dalam perikop ini, para penguasa (pemimpin), memerintah (memimpin) dengan kekerasan dan tangan besi, militerisme di terapkan, sehingga kadang kala mereka memperlakukan manusia, sebagai obyek kekuasaan, dan tidak dihargai sebagai manusia yang bermartabat.  Lukas 17 : 7-10. Pemimpin yang menghamba,ditekankan lagi. Setelah berhasil pekerjaan yang dipercayakan kepadanya. Tidak ada penghargaan (reward), buat hamba itu, dengan rendah hati ia akan berkata …..”Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan”. Prinsip ini benar-benar ditekankan oleh Tuhan Yesus bagi murid-murid-Nya yang kelak akan menjadi pemimpin, juga kepada setiap orang yang kepadanya diberi kepercayaan pemimpin. Yohanes 10:1-21, gembala yang baik, itulah gambaran yang diberikan oleh Yesus kepada murid-murid-Nya. Tuhan Yesus adalah gembala yang baik (penggenapan Mazmur 23). Pemimpin yang berhati gembala, mencari yang sesat, membalut yang luka dan menyembuhkan yang sakit. Ayat 11-12, menegaskan kepada kita semua, bahwa Tuhan Yesus gembala yang memberikan nyawanya bagi domba-domba yang digembalakan. Apakah kita sanggup dan mampu melakukan seperti Yesus, terhadap domba-domba (jemaat) yang dipercayakan kepada kita.  Yohanes 13:1-20. Teladan yang tidak pernah dapat diabaikan begitu saja. Pemimpin yang rendah hati. Siap merendahkan diri, menyamakan diri dengan seorang budak belian (doulos), menanggalkan jubahNya (harga diri dan kehormatanNya), mengenakan pakaian seorang budak, membasuh kaki murid-muridNya, dengan rela dan ikhlas. Tujuan teladan ini, supaya murid-muridNya pun melakukan yang sama terhadap satu sama lain (sesama murid, satu level) maupun bagi orang-orang yang dilayani.
Kisah Para Rasul 6:1-7. Pembagian tugas kepemimpinan dari rasul-rasul yang berjumlah 12 orang, dipilih lagi sebanyak 7 orang yang terkenal baik, penuh Roh dan hikmat. Tugas mereka adalah pelayanan diakonia (pelayanan meja), memperhatikan jemaat yang kekurangan, khususnya janda-janda diantara jemaat mula-mula itu. Sehingga Rasul-rasul, lebih dapat konsentrasi memberitakan Injil (Firman Tuhan), disebar luaskan di Yerusalem waktu itu, hasilnya sejumlah imam (pemimpin agama Yahudi), menyerahkan diri dan menjadi percaya kepada Tuhan Yesus. Jika rasul-rasul itu tidak mau membagi tugas kepemimpinan mereka pasti tidak banyak kesempatan keluar, berjalan, bertemu dengan berbagai manusia, berdiskusi dan membawa lebih banyak orang datang kepada Kristus.
Kepemimpinan rasul-rasul, terus berkesinambungan, dijabarkan lebih dalam dan luas oleh rasul Paulus, dengan pola kepemimpinan berdasarkan karunia-karunia Roh Kudus sebagai berikut:
1. Karunia kuasa untuk mengadakan mujizat (I Kor. 12:10,28-29).
2. Karunia untuk menyembuhkan (I Kor. 12:9, 28, 30).
3. Karunia memberi pertolongan (I Kor. 12:28).
4. Karunia memimpin dan administrasi (I Kor. 12:28; Roma 12:8).
5. Karunia iman (I Kor. 12:9).
6. Karunia Rasul (I Kor. 12:28; Ef. 4:11).
7. Karunia kenabian (I Kor. 11:14-15, 12:2 dst;  Kis.14:27-28).
8. Karunia untuk mengajar (Roma 12:28; I Kor. 12:28-29).
9. Karunia untuk menasihati (Roma 12:8).
10. Karunia untuk berkata-kata dengan hikmat (I Kor. 12:8).
11. Karunia untuk membedakan Roh (I Kor. 12:10, 14:28).
12. Karunia untuk berkata-kata dengan pengetahuan (I Kor. 12:8).
13. Karunia untuk berkata-kata dengan bahasa Roh (I Kor. 12:10).
14. Karunia untuk menafsirkan bahasa Roh (I Kor. 12:10).
15. Karunia sebagai pekabar Injil (Ef. 4:11; 2 Tim. 4:5; Kis. 21:8).
16. Karunia untuk melayani (Roma 12:7).
17. Karunia untuk membagi-bagikan sesuatu (Roma 12:8).
18. Karunia untuk menunjukkan kemurahan (Roma 12:8).
19. Karunia untuk mengembalakan (Ef. 4:11).

BAB  IV
KONSEPSI TENTANG KEPEMIMPINAN YANG DINAMIS

 Kepemimpinan tampaknya lebih merupakan konsep berdasarkan pengalaman. Dalam buku karya DR. Mar’at  dapat kita golongkan konsepsi-konsepsi tentang kepemimpinan sebagai berikut :[6]
1.        Kepemimpinan sebagai fokus proses-proses kelompok.
Mumford  memandang bahwa  kepemimpinan adalah keunggulan seseorang atau beberapa individu dalam kelompok, dalam mengontrol proses gejala-gejala sosial. Blackmar  melihat kepemimpinan sebagai sentralisasi usaha dalam diri seseorang sebagai cerminan kekuasaan dari keseluruhan. Kecenderungan pemikiran dari definisi-definisi di atas sangat berpengaruh di dalam mengarahkan perhatian kepada pentingnya struktur kelompok dan proses kelompok dalam pembahasan mengenai kepemimpinan.
2.        Kepemimpianan sebagai suatu kepribadian dan akibatnya.
Konsep kepribadian diperbandingkan dengan beberapa teori yang mencoba menerangkan mengapa beberapa individu lebih mampu untuk mempraktikkan kepemimpinan. Bowden  mempersamakan kepemimipinan dengan kekuatan kepribadian. Ia menyatakan, “sungguh benar, sifat kepribadian seseorang tidak dapat begitu saja diperkirakan hanya dari tingkatan pengaruh yang dapat ‘didesakkan’ Pada orang lain”. Bingham mendefinisikan pemimpin  sebagai seorang individu yang memiliki sifat-sifat kepribadian dan karakter yang diinginkan. Menurut Bernard , seorang individu yang lebih efisien dalam melontarkan rangsangan psikososial terhadap orang lain dan secara efektif mensyaratkan respon secara kolektif dapat disebut sebagai pemimpin. Teori kepribadian cenderung memandang kepemimpinan sebagai akibat pengaruh satu arah. Mengingat bahwa pemimpin mungkin memiliki kualitas-kualitas tertentu yang membedakan dirinya dengan para pengikutnya, maka biasanya  ahli teori kepribadian ‘lupa’ menyinggung karakteristik timbal balik atau reciprocal dan interaktif dari / dalam situasi kepemimpinan.
3.        Kepemimpinan sebagai tindakan atau tingkah laku.
Ada teori yang mendefinisikan kepemimpinan dalam rangka tindakan dan tingkah laku. Menurut Carter (1953), tingkah laku kepemimpinan menandakan adanya keahlian tertentu, sehingga dapat dikatakan sebagai tingkah laku kepemimpinan. Shartle (1956) mendefinisikan tingkah laku kepemimpinan sebagai tingkah laku yang akan menghasilkan tindakan orang lain searah dengan keinginannya. Hemphill (1949) menyatakan bahwa kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai tingkah laku seorang individu yang mengarahkan aktivitas kelompok.
4.        Kepemimpinan sebagai bentuk persuasi.
Beberapa ahli teori terdahulu berusaha untuk menghilangkan adanya kesan pemaksaan dalam definisi kepemimpinan, dan tetap memakai konsep memimpin sebagai faktor yang menentukan di dalam hubungannya dengan para pengikutnya. Dalam kerangka ini tampaknya lebih tepat menggunakan konsep persuasi. Schenk (1928) menyatakan bahwa kepemimpinan adalah pengelolaan manusia melalui persuasi dan inspirasi daripada melalui pemaksaan langsung. Hal ini melibatkan penerapan pengetahuan mengenai faktor manusia dalam memecahkan masalah yang kongkrit. Menurut Cleeton dan Mason , kepemimpinan mengidentifikasikan adanya kemampuan mempengaruhi manusia dan menghasilkan rasa aman dengan melalui pendekatan secara emosional daripada melalui penggunaan otoriter.
5.        Kepemimpinan sebagai hubungan kekuasaan.
French , Raven dan French  mendefinisikan kepemimpinan dalam kerangka pembedaan hubungan kekuasaan antara para anggota suatu kelompok. Jhanda mendefinisikan kepemimpinan sebagai tipe hubungan kekuasaan yang berciri persepsi anggota kelompok tentang hak anggota kelompok untuk menentukan pola tingkah laku yang sesuai dengan aktivitas kelompok. Pelaksanaan kekuasaan tidak langsung dinyatakan oleh Warriner  yang menyatakan bahwa kepemimpinan sebagai bentuk hubungan antara manusia / individu yang mensyaratkan komformitas dengan tindakan masing-masing individu. Jadi, kekuasaan dipandang sebagai suatu bentuk dari hubungan saling pengaruh mempengaruhi.
6.        Kepemimpinan sebagai alat untuk mencapai tujuan.
Beberapa ahli teori mendefinisikan kepemimpinan sebagai suatu alat untuk mencapai tujuan memuaskan kebutuhan. Menurut Cowley , “pemimpin adalah individu yang memiliki program / rencana dan bersama anggota kelompok bergerak untuk mencapai tujuan dengan cara yang pasti “. Bellows  mendefinisikan kepemimpinan sebagai proses menciptakan situasi sehingga para anggota kelompok, termasuk pemimpin, dapat mencapai tujuan bersama dengan hasil maksimal dalam waktu dan kerja yang singkat. Knickerbocker (1948), berpendapat fungsional kepemimpinan adalah bila pemimpin dipersepsi oleh para anggota kelompok sebagi pengendali dalam pemuasan kebutuhan mereka. Definisi-definisi tersebut di atas memandang kepemimpinan yang mempunyai nilai instrumental. Kepemimpinan di sini menghasilkan peran-peran tertentu yang harus dimainkan dan harus dapat mempersatukan kelompok dalam rangka mencapai tujuan bersama. Jadi, kepemimpinandidefinisikan sebagai suatu fungsi yang sangat penting dalam suatu kelompok..

7.        Kepemimpinan sebagai akibat dari interaksi.
Beberapa ahli teori telah memandang kepemimpinan tidak sebagi penyebab atau pengendali, melainkan sebagiai akibat dari interaksi dalam kelompok. Bogardus menyatakan bahwa kepemimpinan sebagai suatu proses sosial, yang merupakan interstimulasi sosial menjadi penyebab penggantian tujuan lam menjadi tujuan baru beberapa individu dengan tetap menjaga perbedaan posisi masing-masing. Figors  berpendapat “kepemimpinan merupakan suatu proses dari stimulasi bersama”. Dengan keberhasilan saling pengaruh mempengaruhi dari perbedaan individual, energi dikendalikan dalam lingkaran sebab akibat. Merton  memandang kepemimpinan sebagai hubungan interpersonal yang berdasarkan keinginan dan bukannya berdasarkan keharusan. Kelompok ini sangat penting dalam mengarahkan perhatian kepada kenyataan bahwa kepemimpinan tumbuh dan berkembang sebagai hasil dari proses interaksi yang berlangsung dengan sendirinya. Kepemimpinan dapat terjadi bila dikehendaki dan dipandang perlu oleh para anggota kelompok. Dalam kenyataannya individu memiliki kepemimpinan sebagi anugerah atas tingkah lakunya yang diharapkan oleh para anggota kelompok dan dipandang berguna untuk menduduki posisi sebagai pemimpin.
8.        Kepemimpinan sebagi pembeda peran.
Salah satu prestasi yang cukup menonjol dari Sosiologi modern ialah perkembangan dari teori peran (role theory). Setiap anggota suatu masyarakat menempati status posisi tertentu, begitu pula halnya dengan lembaga-lembaga dan organisasi-organisasi. Dalam setiap posisi, individu diharapkan memainkan peran tertentu. Kepemimpinan dapat dipandang sebagai suatu aspek dalam definisi peran. Jennings  memandang kepemimpinan muncul sebagai suatu cara berinteraksi yang melibatkan tingkah laku oleh dan untuk individu, yang pada akhirnya diangkat oleh individu lainnya untuk memainkan peranan sebagai  pemimpin. Gibb memandang kepemimpinan kelompok sebagai suatu posisi yang timbul dari proses interaksi itu sendiri. Menurut Gordon, kepemimpinan dapt dikonsepsikan sebagai suatu interaksi antara individu dengan anggota kelompok. Setiap partisipan dalam interaksi ini dapat dikatakan memainkan peranan dan dengan berbagai cara peran-peran tersebut didiferensiasikan antara satu dengan yang lainnya.

CIRI- CIRI KEPEMIMPINAN YANG DINAMIS

Ada korelasi antara kepribadian seseorang dengan jiwa kepemimpinan, sehingga kepemimpinan dapat dikatakan sebagai ciri kepribadian seseorang. Millet  menyatakan bahwa kualifikasi kepribadian dalam kepemimpinan merupakan faktor yang sangat vital. Atas dasar tersebut, Millet menentukan delapan ciri kepemimpinan, yaitu :[7]
1.        Kesehatan yang memadai, kekuatan pribadi, dan ketahanan fisik.
2.        Memahami tugas pokok (mission), komitmen pribadi terhadap kegiatan atau tujuan bersama, memiliki rasa percaya diri.
3.        Memiliki perhatian kepada orang lain, ramah-tamah, memperhatikan masalah orang lain.
4.        Intelejensi, seorang pemimpin tidak harus seorang ahli yang memiliki pengetahuan tentang segala hal secara mendalam, tetapi yang penting dia harus memiliki commonsense yan baik, artinya : kemampuan yang siap dan cepat untuk memahami unsur-unsur yang ensensiil dari informasi yang di perlukan, serta kapasitas untuk mengunakan pengetahuan.
5.        Integritas, yaitu memahami kewajiban moral dan kejujuran, kemauan untuk menjadikan pencapaian sesuatu sebagai hasil bersama, kemampuan untuk menentukan standar tingkah laku pribadi dan resmi yang akan menghasilkan sikap hormat dari orang lain.
6.        Sikap persuasif, yaitu kemampuan mempengaruhi orang lain untuk menerima keputusan-keputusannya.
7.        Kritis, yaitu kemempuan untuk mengetahui kekuatan orang yang bekerja dengannya dan bagaimana memperoleh kemanfaatannya secara maksimal bagi organisasi.
8.        Kesetiaan, yaitu perhatian penuh kepada kegiatan bersama dan juga kepada orang-orang yang bekerja dengannnya, serta semangat mempertahankan kelompoknya terhadap serangan dari luar.
Ciri-ciri kepemimpinan yang lain dikemukakan oleh Sondang P. Siagian yang menyebutkan bahwa seorang pemimpin yang baik harus memiliki dua belas sifat sebagai berikut :[8]
1.        Memiliki kondisi fisik yang sehat sesuai dengan tugasnya. Tugas kepemimpinan tertentu menuntut sifat kesehatan tertentu pula. Sebagai contoh adalah seseorang yang berkaca mata, yang mana menurut ukuran biasa dia dalam kondisi sehat, tapi dia tidak dapat menjadi pemimpin dalam suatu pesawat terbang.
2.        Berpengetahuan dan berpengalaman luas, yang mana hal ini tidak selalu dapat diidentikkan dengan berpendidikan tinggi. Ada sekelompok orang yang meskipun pendidikan tinggi, tapi pandangannya masih sempit yaitu terbatas pada bidang keahliaannya saja. Sebaliknya, banyak orang yang tidak berpendidikan tinggi tetapi karena pengalamannya luas dan memiliki kemauan keras untuk mengembangkan diri, maka dia memiliki pengetahuan yang luas tentang banyak hal.
3.        Mempunyai keyainan bahwa organisasi akan berhasil dan mencapai tujuan yang telah ditentukan melalui dan berkat kepemimpinannya. Kepercayaan pada diri sendiri merupakan modal yang sangat besar dan penting artinya bagi seorang pemimpin. Tanpa keyakinan itu dalam tindakannya, dia akan sering ragu-ragu.
4.        Mengetahui dengan jelas sifat hakikat dan kompleksitas dari pada tujuan yang hendak dicapai. Pada umumya semakin besar suatu organisasi, maka semakin rumit pula sifat dan ruang lingkup tujuan yang hendak dicapai dan semakin komplek pula kegiatan-kegiatan yang harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan itu.
5.        Memiliki stamina / daya kerja dan antusiasme yang besar. Pekerjaan pemimpin pada dasarnya adalah pekerjaan mental yang tidak mulai pada waktu dia tiba di tempat kerjanya dan dapat dihentikan pada waktu dia pulang kerumahnya. Di samping itu, stamina bekerja sangat diperlukan karena frustasi yang dihadapi oleh seseorang yang menjadi pelaksana biasa pada umumnya kurang dari / lebih kecil bila dibandingkan dengan frustasi yang dihadapi oleh seorang yang menduduki jabatan pemimpin.
6.        Gemar dan cepat mengambil keputuasan. Oleh karena tugas terpenting dari seorang pemimpin adalah mengambil keputusan yang harus dilaksanakan oleh orang lain, maka dia harus mempunyai kebernian untuk mengambil keputusan dengan cepat, terutama dalam keadaan darurat yang tidak dapat menunggu. Penundaan pengambilan keputusan pada hakekatnya merupakan suatu kelemahan yang tidakj boleh dimiliki oleh seorang pemimpin yang baik.
7.        Obyektif dalam arti dapat menguasai emosi dan lebih banyak  mempergunakan rasio. Seorang pemimpin yang emosional akan kehilangan oyektivitasnya karena tindakannya tidak lagi didasarkan pada akal sehat, akan tetapi lebih sering didasarkan pada pertimbangan personal likes and dislikes, baik terhadap seorang maupun terhadap pada penggunaan alat-alat yang diperlukan.
8.        Adil dalam memperlakukan bawahan. Keadilan di sini dimaksudkan sebagai kemampuan memperlakukan bawahan berdasar kapasitas kerja bawahan itu, terlepas dari masalah primordialisme seperti pandangan-pandangan kedaerahan, kesukuan, kepartaian, ikatan keluarga, dan lain sejenisnya. Keadilan disini juga berarti kesanggupan untuk mengenal dan mengkompensasikan pelaksanaan tugas yang baik oleh bawahan dan kemampuan memberikan koreksi dan bimbingan kepada bawahan yang kurang cakap.
9.        Menguasai prinsip-prinsip human relations, karena prinsip ini merupakan inti kepemimpinan. Seorang pemimpin yang baik harus dapat memusatkan perhatian, tindakan, dan kebijaksanaannya pada pembinaan tim kerja. Hal ini berarti kemampuan untuk membedakan manusia dengan alat-alat / benda.
10.     Menguasai teknik-teknik berkomunikasi. Berkomunikasi dengan pihak lain seperti sesama atasan, bawahan dan pihak luar, baik secara tertulis maupun secara lisan adalah sangat penting karena melalui saluran-saluran komunikasilah instruksi, nasehat, saran, ide, berita, informasi dan bimbingan disampaikan. Menguasai teknik-teknik berkomunikasi sekaligus berarti pula penguasaan terhadap bahasa yang biasa dipergunakan dalam oeganisasi. Seseorang yang gugup merupakan manifestasi ketidakmampuan berkomunikasi dengan orang / pihak lain.
11.     Dapat dan mampu bertindak sebagai penasehat, guru dan kepala terhadap bawahannya, tergantung dari situasi dan masalah yang dihadapi. Dalam hubungan ini harus diperhatikan pula sifat-sifat bawahan yang dihadapi.
12.     Mempunyai gambaran yang menyeluruh tentang semua aspek kegiatan organisasi. Seorang pemimpin yang baik tidak boleh menganakemaskan suatu bagian di dalam organisai dan menganaktirikan yang lain. Dalam arti inilah seorang pemimpin menjadi seorang generalist.
Roeslan Abdulgani menambahkan bahwa persyaratan kepemimpinan menyangkut bidang perwatakan, kepribadian kejiwaan, ilmu pengetahuan, kecakapan dan tingah laku. Kesemuanya ini berpusat pada satu inti persoalan kepemimpinan, yaitu : harus dimilikinya kelebihan-kelebihan dibanding dengan mereka yang dipimpin. Kelebihan tersebut menurut Abdulgani meliputi tiga hal sebagai berikut :
1.        Kelebihan dalam moral dan akhlak.
2.        Kelebihan dalan jiwa dan semangat.
3.        Kelebihan dalam ketetunan dan keuletan jasmaniah.

UNSUR KEPEMIMPINAN DAN FUNGSI PEMIMPIN.
Pada dasarnya ada 3 unsur yang perlu dipenuhi agar kepemimpinan dapat dijalankan, yaitu :
1.        Adanya kelompok manusia.
2.        Adanya tujuan kelompok.
3.        Adanya diferensiasi fungsi dan tanggung jawab.
Menurut Siagian[9], ada lima fungsi pemimpin  dalam suatu organisasi maupun dalam suatu komunitas masyarakat, yaitu :
1.        Selaku penentu arah yang akan ditempuh dalam usaha pencapaian tujuan.
2.        Wakil dan juru bicara organisasi dalam hubungan dengan pihak-pihak di luar organisasi.
3.        Selaku komunikator yang efektif.
4.        Mediator yang handal khususnya dalam hubungan ke dalam, terutama dalam menangani situasi konflik.
5.        Selaku integrator yang efektif, rasional, obyektif dan netral.
            Jadi sangatlah penting bagi seorang pemimpin yang dinamis dapat menigkatkan unsur dan fungsi kepemimpinan untuk meningkatkan daya tarik serta pengaruh yang baik dan dapat menjadi teladan yang baik dan menjadikan pemimpin yang baik dan berotoritas.

BAB. V
KESIMPULAN
Jadi dalam penjelasan diatas bahwa pemimpin dinamis ialah orang memiliki visi dan misi yang jelas untuk dapat membawa pengikutnya berjalan menuju atau mencapai tujuan. Kita dapat belajar dari beberapa tokoh yang dapat kita pelajari baik dalam Perjanjian Lama atau Perjanjian Baru bagaimana kita untuk meningkatkan daya kepemimpinan kita. Kepemimpinan yang dinamis harus memiliki daya kepemimpinan yang berdaya guna sehingga dapat menhasilkan banyak pemimpin baru. Demikian juga sebagai kepemimpinan gereja kita harus memiliki daya tersebut dan minta urapan Tuhan untuk dapat menjalankan aspek dari kepemimpinan kita. Ingat bahwa sesuatu organisasi baik berhasil atau tidaknya akan ditentukan oleh seberapa besar kapasitas daya kepemimpinan yang dimiliki oleh para pemimpin tersebut, semakin kecil maka akan semakin kecil pula daya kepemimpinanya, namun jika semakin besar maka daya kepemimpinannya pun akan terus maju. Oleh sebab itu baik atau buruknya ditentukan oleh pemimpi dan marilah kita untuk meningkatkan daya kepemimpinan yang dinamis dengan mau belajar dari pengalaman, belajar dari orang-orang yang memiliki daya kepemimpinan yang baik, serta banyaklah menerima kritikan dan mulailah bangun diri kita untuk memajukan potensi yang telah Tuhan berikan kepada kita.



[1] Diktat Kepemimpinan Kristen. STT KHARISMA: Bandung. Hal. 2
[2] Maxwell, John C., 101 Kepemimpinan. Batam Center: Interaksara, 2002. hal. 3
[3] Gordon, Thomas, 1986, Kepemimpinan yang efektif, Rajawali: Jakarta, hal. 4
[4] Siagian, sondang P. 1988. Teori dan Praktek kepemimpinan. PT. Bina Aksara, Jakarta. Hal.8
[5]Mujiono, Ricky .2008. Kamus Bahasa Indonesia. 
[6] Mar’at, 1983, Pemimpin dan Kepemimpinan, Ghalia Indonesia: Jakarta, Hal. 23
[7] Millet. Kepemimpinan Yang Dinamis. 1999. Gagjah Mada University Press, Yogyakarta. Hal. 22
[8] Siagian, Sondang.  Teori dan Praktek Pengambilan Keputusan, PT. Inti Idayu Press, Jakarta. Hal. 33
[9] Ibid, hal. 43-44

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar