Rabu, 16 Februari 2011

TAFSIRAN KITAB YOEL

Nama                          : Denny Sitompul
NIM                            : 07. 1. 001
Mata Kuliah              : Tafsir Perjanjian Lama
Dosen                          : Yamowa Bate’e, M.Th
Kitab                          : Yoel
Penulis                        : Nabi Yoel.
Tema                          : Tulah belalang sebagai hukuman Tuhan
Teks                            : Yoel 1:1-20
Konteks Dekat           : Keluaran 10:6,14
Konteks Jauh                        : Wahyu 9:3:11, Matius 24:21
 Latar Belakang        :
Yoel tampaknya berasal dari Yudea, sebab ia terutama diutus kepada bangsa ini. Lagipula seringkali ia menyebut-nyebut Yudea dan Yerusalem (Yoel: 1:14, 2:1, 15, 32; 3:1, 12, 17, 20, 21). Nampaknya kitab ini ditulis di antara abad kelima dan keempat Sebelum Masehi, pada masa kekuasaan kerajaan Persia. Nabi Yoel menceritakan tentang datangnya kawanan belalang yang merusakkan segala tumbuhan dan musim kemarau yang hebat sekali di Palestina. Yehuda dikelilingi oleh bangsa-bangsa yang jahat bagaikan sekumpulan belalang. Harapan mereka satu-satunya hanya pertobatan. Kitab ini memfokuskan penghakiman yang sudah lampau (belalang), penghakiman yang sedang dihadapi (bangsa-bangsa), tersedianya belas kasihan Allah dan panggilan Allah untuk bertobat (Yoe 1:13-20; 2:12-17).
Siapa                           :  -Yoel, yang namanya berarti "Tuhan adalah Allah", memperkenalkan dirinya sebagai "bin Petuel" (Yoel 1:1). Banyaknya acuan ke Sion dan pelayanan di dalam Bait Suci sepanjang kitab ini menunjukkan bahwa ia seorang nabi kepada Yehuda dan Yerusalem.
                                      -para tua-tua (1:2) dan para imam (1:13) bertanggung jawab dalam kepemimpinan nasional pada saat itu.
Dimana                       : Kerajaan Selatan (Yehuda)
Kapan                                    : 835 sM sesudah zaman pembuangan.
Apa yang terjadi       :
Fokus

Hari Tuhan alat instropeksi
(1:1)                                       (1:20)
Hari Tuhan menunjuk masa yang akan datang
(2:1)                                                                 (3:21)        
Bagan

Masa belalang
(1:1)          (1:12)
Masa Kekeringan
(1:13)         (1:20)
Hari Tuhan sudah dekat
(2:1)                    (2:27)
Masa akhir hari Tuhan
(2:28)                     (3:21)
Topik
Historisitas penyerbuan
Nubuatan penyerbuan
Penghukuman masa lalu bagi Yehuda
Hukuman Yehuda dan Pemulihan Yehuda
Tempat
Kerajaan Selatan (Yehuda)
Waktu
 835 sM
Bagaimana                 :
1.      (Yoel 1:2-20) menggambarkan kehancuran Yehuda ketika pasukan belalang yang besar melahap daun-daunan dari kebun anggur, pohon, dan ladang mereka (Yoel 1:7,10), dengan demikian mendatangkan kesengsaraan besar atas umat itu. Di tengah malapetaka itu, nabi Yoel meminta para pemimpin rohani Yehuda untuk memimpin bangsa itu kepada pertobatan nasional (Yoel 1:13-14).
2.      (Yoel 2:1-17) mencatat dekatnya hukuman Allah yang bahkan lebih besar lagi dari utara (Yoel 1:1-11), baik dalam bentuk:
 (a) bencana belalang lain yang secara kiasan dilukiskan sebagai pasukan perusak, atau
(b) serbuan sebuah pasukan asing yang sungguh. Sekali lagi sang nabi mencanangkan tanda bahaya rohani di Sion (Yoel 2:1,15), memanggil perkumpulan raya yang kudus di mana para imam dan seluruh bangsa itu dengan sungguh-sungguh akan mencari kemurahan Allah di dalam pertobatan, puasa, syafaat dan kehancuran yang ikhlas di hadapan-Nya (Yoel 2:12-17).
3.      (Yoel 2:18--3:21) diawali dengan pernyataan bahwa Allah mengasihani umat-Nya ketika melihat pertobatan mereka yang sungguh-sungguh (kata kerja Ibrani dalam Yoel 2:18-19 menunjuk tindakan yang sudah dikerjakan).
Mengapa                    :
Ayat 1, Yoel berarti Yahweh (atau Yehovah) adalah Allah. Petuel berarti dibujuk Allah. Di Timur, pemakaian nama ayah berfungsi sebagai tanda identifikasi.
1:2-9                Keluhan tentang tulah belalang
Ayat 2-3
Ayat 2 dan 3 adalah panggilan yang harus mengajak umat itu untuk mendengarkan cerita selanjutnya. Rumusan ini menuju kepada cara yang biasa dipakai oleh pengajar hikmat atau seorang pengkhotbah (Maz. 78:1-4, Ayub 34:2, Hosea  5:1). Yoel disini bermaksud untuk menarik perhatian, makanya ia mempergunakan suatu cara pengajaran yang biasa di Israel. Dengarlah ini. Permohonan yang sungguh-sungguh untuk memperhatikan apa yang akan terjadi (Amsal 3:1, 4:1, 5:1). Para Tua-tua. Disini bukan tua-tua pejabat tetapi orang-orang yang berusia lanjut yang meneruskan adat masa lampau kepada generasi berikut. Tetapi lebih baik kita menafsirkan para tua-tua disini sebagai suatu kelompok tertentu dimasyarakat Israel pada zaman Yoel. Para tua-tua tersebut adalah para pemimpin yang berfungsi sebagai wakil-wakil jemaat Yerusalem (Ezra 5:9). Didalam teokrasi ini para tua-tua diberikan tanggung jawab dan pangkat khusus karena mereka sudah dari dahulu diterima didalam masyarakat selaku orang yang sanggup memimpin (Hak. 8:14). Kewibawaannya didasarkan pada umurnya, pengalamannya, hikmatnya, dan kepercayaannya bahkan atas fungsi untuk menyerahkan sejarah keselamatan kepada keturunannya berikut.seluruh negeri,disini ialah daerah Yehuda dan Yerusalem (Yoel 3:1). Namun secara praktis yoel sedang mengahadapi rakyat yang ada di Yerusalem sehingga semua penduduk negeri berarti seluruh Yerusalem dan sekitarnya. Zaman nenek moyang disini  adalah kebiasaan di antara bangsa timur, kenangan waktu lampau diceritakan dari generasi ke generasi karena terdapat sebab akibat dalam ayat 3, dan ini membuktikan kebiasaan mereka pada saat itu untuk menceritakannya.
Ayat 4
Kebinasaan total yang dimaksud dalam ayat ini, suatu tulah belalang yang membinasakan segala tumbuh-tumbuhan. Belalang pengerip, belalang pindahan, belalang pelompat, belalang pelahap. Ini adalah jenis belalang yang terdapat didaerah timur. Jenis belalang tersebut memoliki nafsu makan yang sangat kuat dan sangat cepat dalam berkembang biak sebab saat belalang tersebut lewat tidak ada tumbuhan yang tersisa.dan wabah ini sangat mengerikan sekali. Sebenarnya ini digambarkan yoel bahwa kawanan belalang ini merupakan pelajaran sebuah peringatan akan hari pengadilan Allah yang sudah semakin dekat (Ayat 15). Makna belalang tersebut menurut saya adalah  untuk menjelaskan dengan tegas, bagaimana mutlaknya kebinasaan direalisasikan. Bencana ini terdiri dari serentetan serangan belalang yang tidak meninggalkan sesuatu apapun.
Ayat 5-7
Ayat 5-7 adalah kelanjutan sebab akibat yang dilakukan oleh belalang tersebut yang membuat bencana yang hebat. Disini yoel menyerukan untuk mengadakan ratapan rakyat.  Ayat 5 bangunlah, hai pemabuk. Para pemabuk disini mewakili golongan mewah. Karena belalang-belalang memakan habis kebun-kebun anggur hingga hancur, maka para pemabuk dan para peminum anggur harus menyadari realitas itu. Barang kali harus diingat kepada kebiasaan pada saat itu, orang yang pada suatu pesta panen biasanya meminum banyak air anggur, khususnya anggur yang baru. Anggur Baru disini adalah anggur, dimana proses peragian dihentikan dan orang merasakan anggur itu paling enak. Orang-orang yang biasa pada upacara pesta panen itu menikmati anggur dan yang ketiduran karena mabuknya harus bangun dan meraung sebab kenikmatan terpaksa disudahi akbat bencana belalang tersebut. Oleh sebab itu anggur yang dirampas dari mulut, maka orang yang biasa bergembira sekarang harus menyadari dukacita. Ayat 6-7, penyebab kesulitan tersebut ialah amat banyaknya musuh senjata-senjata mereka sangat mengerikan yang mereka miliki serta akibat-akibat buruk serangan mereka. Taringnya. Taring beberapa jenis belalang seperti gergaji. Dengan taring seperti itu mereka dapat mengunyah kayu, kulit, dan daun. Buntung. Ini gaya bahasa hiperbola. Belalang tidak dapat membuat pohon ara menjadi buntung, tetapi mereka dapat mengurangi nilai pohon ara itu menjadi serpih. Dengan mengunyah bunga, daun, dan kulit kayunya dapat membuatnya gundul. Pohon ara dan pohon anggur melambangkan kesejahteraan dan kesuburan Israel. Dan oleh kejadian yang mengerikan tersebut, para pemabuk tersebut harus bangun dari tidurnya.
Ayat 8-9
Merataplah, dalam hal ini menurutpendapat saya menunjukan kepada rakyat bahkan kepada seluruh negeri. Rakyat ini dan seluruh negeri diumpamakan seperti seorang putrid (Yesaya 62:4,5; Yesaya 62:11, 6:26). Dukacita rakyat dan negeri Tuhan itu harus sama dalamnya seperti dukacita seorang perempuan muda yang kehilangan mempelainya. Dimaksudkan seorang perempuan yang sebelum perkawinannya kehilangan bakal suaminya. Untuk mengerti lebih dalam dukacita perempuan ini kita harus mengetahui sedikit tentang adat pertunangan dan perkawinan di Israel. Masa mudanya  menjelaskan masa sebelum perkawinan yaitu masa pengantin (Yer. 2:2), sebelum perempuan ini dibawa kerumah suaminya. pada saat itu telah terjadi sesuatu dengan mempelai tersebut barang kali dia mneinggal. Konsekuensinya ialah bahwa perempuan ini harus dianggap janda. Dan ini adalah suatu dukacita yang sukar di Israel. Kain Kabung, yang dibuat dari kain kasar yang berwarna hitam adalah tanda dukacita. Baik dalam keadaan pribadi maupun keadaan umum kain kabung dipergunakan sebagai tanda bukti dukacita dan kerendahan hati berhubungan dengan kebiasaan perkabungan (Kej.37:34, Yes. 32:11,12; Yer.48:37). Namun pokok perbandingan didalam ayat 8 ini bukanlah perempuan ini yang seolah-olah melambangkan umat Israel, tetapi dukacita yang luar biasa dalamnya pada perempuan ini. Ratapan umat Tuhan karena kemusnahan negerinya haruslah sama dalamnya dengan ratapan seorang perempuan yang kehilangan mempelainya. Dan ini mengisahkan bagaimana daruratnya yang dialami oleh Yehuda dan Yerusalem. Ayat 9, kurban sajian dank urban curahan, keduannya berarti kurban sehari-hari.(Bil.15:5; 28:7; Kel. 29:38). Karena hasil tanah sudah binasa dalam ayat 7,10-12, maka ibadah dirumah Allah tidak dapat diteruskan lagi, sehingga juga para petugas yaitu imam-imam dan pelayan-pelayan berdukacita. Perhentian persembahan-persembahan ini dilihat yoel sebagai suatu peristiwa yang hebat karena persembahan-persembahan ini dihubungkannya dengan berkat Tuhan (2:14). Rumah Tuhan tanpa korban-korban ini tidak dapat berfungsi sebagai rumah Tuhan. Tanda-tanda persekutuan keselamatan antara Tuhan dengan umat-Nya tidak ada lagi. Imam-imam selaku pengantara persekutuan ini juga tidak menerima lagi sebagian dari korban persembahan sebagai nafkah kehidupannya (imamat 2:3). Dan menurut Yosephus berpendapat bahwa pemutusan kurban-kurban sehari-hari adalah malapetaka paling mengerikan dan tidak pernah terjadi sebelumnya dalam pengepungan Yerusalem. Pelayan-pelayan Tuhan khusus berfungsi sebagai pelayan mezbah, penjaga dan pemilik rumah Tuhan.
Ayat 10-12                              Masa Kekeringan
Gandum, anggur, dan minyak merupakan bahan-bahan pokok hasil tanah Israel. Malahan bahan ini selalu dipandang sebagai tanda keselamatan (Ul. 7:13). Rupanya menjadi kering dan menipis bukan saja diakibatkan oleh belalang-belalang namun juga oleh musim kemarau, hal tersebut sudah menjadi biasa karena jika belalang muncul dengan hebat, selalu terjadi pada musim kemarau. Tanah berkabung. Tanah dilukiskan sebagai manusia yang berkabung. Kegembiraan terdapat apabila hasil tanah melimpah (Mzr. 65:10-14). Ayat 11-12 oleh karena itu juga petani-petani dan tukang-tukang kebun berdukacita, karena panennya gagal. Orang-orang ini menjadi malu, karena jerih payahnya tidak berhasil. Ayat 11-12 menyebutkan serentetan hasil tanah dan pohon-pohon yang buah-buahnya amat berharga untuk masyarakat. Karena segala sesuatu sudah layu dan hancur maka semuanya tidak ada lagi kegunaanya. Anak-anak manusia, khususnya para petani dan para tukang kebun menjadi malu untuk menyukakan diri. Kegirangan sudah sama seperti keadaan dipadang yaitu telah layu. Masa keselamatan selalu disertai dengan kesukaan anak-anak manusia (Yes.9:2; 35:10; Zak. 8:19).
Ayat 13-14                              Himbauan  untuk bertobat
Dalam ayat ini pemikirannya kembali kepada ayat 9. Disini para imam ditegur berdasarkan prinsip yang sama seperti untuk para pemabuk pada ayat 5. Dengan gagalnya panen, pelayanan mereka akan berakhir, karena tidak aka ada buah-buah sulung dan berbagai persembahan kurban akan segera berhenti. Lilitkanlah kain kabung. Suatu istilah khusus, yang menyatakan bahwa orang yang bersangkutan mempersiapkan diri untuk suatu aktivitas. Aktivitas disini bukanlah saja berdukacita, melainkan juga didalam dukacita itu mengantarai Tuhan dan umat-Nya sebagai wakil-wakil rakyat, imam-imam dan pelayan-pelayan harus merendahkan diri karena bencana yang melanda Yehuda dan Yerusalem. Kata mengeluhlah, biasanya dilakukan memukul dada sebagai tanda dukacita yang sungguh-sunggu (Yes.32:12). Dengan hal ini membuktikan kesungguhan dukacita kepada Tuhan, dengan sikap kesungguhan ini mereka hendak memohon kepada Tuhan Allah supaya keadaan darurat itu di berikan-Nya rahmat lagi. Sudah ditahan dari Rumah Allahmu, korban sajian dan korban curahan,disini karena korban sajian dan curahan ditahan dari rumah Tuhan Allah suatu hal yang menunjukan terputusnya persekutuan Tuhan Allah dengan umat-Nya, maka dengan cara perkabungan ini diusahakanlah pemulihan persekutuan ini. Ayat 14, walaupun negeri dan rakyat sudah diajak untuk meratap (ayat 8), namun umat Tuhan dipanggil khusus berkumpul dirumah Tuhan. Dan petunjuk-petunjuk di dalam ayat 14 harus dilaksanakan oleh para imam. Puasa adalah suatu perbuatan kultis, dimana orang menahan diri untuk menahan diri dari makanan dan minuman dan persetubuhan. Puasa yang kudus dimaksudkan bahwa satu hari dikhusukan untuk melakukan puasa sebagai pengakuan bahwa orang takluk kepada keadaan darurat yang dialami itu dan kepada Tuhan. Berhubung dengan itu semua penduduk negeri harus dikerahkan untuk perkumpulan raya. Maskudnya dan tujuan ibadah ini ialah berseru kepada Tuhan melalui berpuasa dan berdoa. Dan saya berpendapat bahwa setiap bagian kegiatan ini menuju kepada keseluruhan yaitu sikap pertobatan kepada Tuhan (Yoel 2:12-17).
Ayat 15-20                  Kengerian Hari Tuhan.
Ayat 15 tentang hari Tuhan, Yoel maksudkan bahwa manusia memiliki masa jayanya dan berjalan menurruti kemauannya tetapi akhirnya Hari Tuhan harus tiba. Barang kali dengan ungkapan-ungkapan yang singkat ini, seperti yang terdapat dalam keseluruhan pasal 1, hendak menekankan keistimewaan keadaan ini untuk Yehuda dan Yerusalem. Melihat konteks Yoel tulah belalang dan kekeringan yang luar biasa itu harus dilihat oleh rakyat sebagai pendahuluan hari Tuhan. Didalam bencana yang dialami oleh rakyat dan yang mengancam ekonomi rakyat dan kehidupan rohani, Yoel melihat itu sebagai tanda kedatangan hari Tuhan. Yang Maha Kuasa. Kata Ibrani “Shadday” dipakai sebagai nama Allah dengan Acuan jelas kepada kuasa ilahi. Ayat 16, Didepan mata kita, orang-orang yudea tak berdaya mencegah kehancuran yang terjadi akibat bencana tersebut. Sukaria dan sorak-sorai. Sukaria pertemuan agamawi dan penyajian hasil pertama. Ini dipersembahkan dibait Suci dengan sukacita (Ul. 26:1-11). Namun sukaria dan sorak sorai tidak ada lagi karena manusia berdukacita dan tidak ada kesempatan untuk membawa korban kepada Tuhan (ayat 9). Ayat 17-18, karena kekeringan yang terjadi maka biji-bijian tidak dapat bertunas. Didalam tanah tidak ada air akibat kekeringan tersebut. Gudang-gudang dan lumbung-lumbung yang digunakan untuk menyimpan gandum, tidak berguna lagi dan sudah runtuh akibat tidak terpelihara lagi. Dengan rengkiang-rengkiang dan lumbung-lumbung yang hancur itu maka binasalah kemungkinan kehidupan dan harapan atas masa depan. Yoel menuliskan keputusan asaan negeri tersebut. Jugalah hewan menderita tidak ada rumput akibat bencana tersebut bahkan kambing domba pun menjadi tersiksa akibat hal tersebut. Hal ini menerangkan bahwa bencana tersebut bukan main beratnya karena pada umumnya kambing domba malahan didalam keadaan yang sekali pun sukar tetap berhasil mendapatkan makanan. Ayat 19-20, di antara alam yang mengeluh itu, yoel menempatkan dirinya sebagai perantara, dengan meminta rahmat kepada Tuhan melalui doanya (ayat 19,20). Yoel dengan mengucapkan doanya berfungsi sebagai penyambung lidah seluruh umat-Nya. Api dan nyala api, harus dihubungkan dengan musim kemarau dan kekeringan. Poho-pohon yang dimakan belalang itu sebagai kayu bakar dengan gampangf dapat menjadi api, karena musim kemarau yang begitu hebat. Hewan menjerit karena rindu kepada-Nya. Dengan pemakaian perumpamaan ini Yoel hendak melukiskan bahwa alam, dan para mahkluk tidak sanggup mengatasi bencana tersebut. Mungkin ini perumpamaan seperti dalam Maz. 42:2.
Kesimpulan:
Nubuat Yoel didalam pasal 1 harus dibaca dari pusatnya, yaitu ayat 15. Malapetaka didalam bentuk tulah belalang dan kekeringan merupakan bencana yang sangat dasyat yang menimpa negeri tersebut. Peristiwa yang mengganggu ekonomi, bahkan seluruh kehidupan diperdalam dengan menempatkan keadaan itu dalam terang kedatangan hari Tuhan. Untuk membangkitkan rakyat maka yoel mengatakan dengan keras bahwa hari Tuhan akan datang dan diperlukan pertobatan. Yoel mengejutkan umat Tuhan, tetapi pada saat yang sama umat Tuhan ini diajaknya supaya mereka sadar (ayat 2,5,8,13,14). Dan berhimpun  dalam rumah Tuhan untuk berseru kepada Tuhan agar nyata kesungguhan kepercayaan mereka.  
Aplikasinya    :
1.      Meluruskan yang salah
Tugas Yoel ialah memberitahu manusia apa kesalahan mereka, tetapi tugas manusia adalah meluruskan yang salah itu! Apabila Allah memberikan suatu peringatan yang jelas, maka reaksi kita satu-satunya hanyalah pertobatan.
2.      Pertobatan dan pengampunan
Kedua hal di atas saling berhubungan erat dalam Alkitab. Jika kita bertobat, kita akan diampuni. Dan jika kita tidak mau bertobat, maka kita tidak dapat diampuni.
3.      Pesan Yoel kepada gereja
Yoel berkhotbah kepada suatu bangsa, yaitu umat pilihan Allah. Bencana alam merupakan petunjuk akan adanya kerusakan rohani. Hal ini merupakan suatu pelajaran yang penting bagi umat pilihan Allah
pada saat ini, yaitu gereja. Apakah kita menderita kelaparan rohani? Apakah kita mengalami kekalahan rohani? Apakah orang-orang yang belum percaya yang ada di sekeliling kita menertawakan gereja? Apakah kita merasa tertekan dan kehilangan semangat? Jika demikian, dosa, ketidakpercayaan, ketidaktaatanlah yang menjadi sebab semuanya itu. Kalau begitu, maka jawabannya adalah pertobatan. Dan jika umat Allah mendengar, menanggapi, bertobat dan berlaku taat, Allah akan mengampuni dan memulihkan serta memberkati kita.
Daftar Pustaka:
Andreas Rusmanto. Diktat Pembimbing Perjanjian Lama dan Diktat Hermeunetik.
Charles F. Pfeiffer dan Everett F. Haririson. The Wyclife Bible Commentary.
WS Lasor. Pengantar Perjanjian Lama 2. Dan Handbook to the Bible.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar